Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Mengenal Media Mainstream yang saat ini sedang Banyak diamati dan dituntut kebenaran dalam setiap Beritanya

Beberapa waktu lalu dalam podcast Deddy Corbuzier, mendatangkan seorang jurnalis ternama yaitu Rosiana Silalahi. Keduanya mencoba saling sharing tentang pemikirannya terkait media mainstream Indonesia yang saat ini dianggap meresahkan. Hal tersebut karena satu diantaranya selalu memberikan headlines berlebihan namun tidak sesuai kenyataan untuk menarik pembaca.

Beberapa Poin Terkait Media Mainstream Indonesia yang seharusnya Semuanya bisa diandalkan

Jika Anda menyaksikan podcast tersebut mungkin terasa berat tetapi harus didengarkan. Hal ini menyangkut bagaimana saat ini media di Indonesia berjalan termasuk dalam pemberitaan. Pembahasan kali ini hanya akan membahas terkait apa itu sebenarnya media mainstream, bukan podcastnya tersebut dan berikut poin terkait pengenalannya.

1. Media Mainstream Tidak sama dengan Media Sosial

Source : news.detik.com
Source : news.detik.com

Poin pertama adalah dimana media mainstream jangan disamakan dengan media sosial karena keduanya berbeda. Justru medsos lah yang saat ini menjadi pesaing tangguhnya, sedangkan media-media mainstream tersebut adalah kumpulan dari penyedia berita atau informasi terkini di Indonesia. Baik dalam bidang politik, sosial, perekonomian, serta banyak lagi lainnya.

Saat ini sendiri masyarakat sendiri sepertinya lebih memilih media sosial dalam mendapatkan informasi atau mengkonfirmasi sebuah berita, padahal disana tempat dimana sering tersebarnya hoax atau info tidak benar. Untuk itulah meskipun menjadi pesaing beratnya, hal tersebut membuat media mainstream berkesempatan agar selalu bisa memberika konfirmasi berita-berita akurat dan benar.

2. Media Mainstream sering Menjadi Sasaran Berita Abal-abal yang Viral melalui Media Sosial

Source : portal-islam.id
Source : portal-islam.id

Melihat bagaimana perdebatan sehat dan fair antara Deddy Corbuzier dan Rosiana Silalahi, dimana tidak semua media mainstream seburuk yang dipikirkan oleh Deddy. Hal tersebut memang benar karena terbukti bahwa tidak jarang media-media mainstream menjadi sasaran terkait pemberitaan abal-abal yang viral melalui media sosial.

Namun perlu digaris bawahi juga, bahwa baik media mainstream atau media sosial, sebagai tujuan masyarakat mencari sebuah berita bisa menjadi good journalism. Dengan memberikan berita-berita akurat melalui fakta, bukan malah menjadikan segala bahan secara sembarangan guna meningkatkan minta pembaca melalui headlines berlebihan. Mencoret nama baik media mainstream Indonesia.

3. Di Era Globalisasi Media Mainstream berusaha untuk Terus Bertahan dengan Gerusan Media Sosial

Source : suara.com
Source : suara.com

Jika melihat penjelasan pada poin-poin sebelumnya, media mainstream yang terdiri dari beberapa media-media pers di Indonesia saat ini sedang mencoba bertahan di tengah digandrunginya media sosial. Pada akhirnya, tidak jarang mereka justru memanfaatkan konten di dalam medsos menjadi salah satu pemberitaannya.

Hal tersebut tentunya menjadi salah satu alasan terkadang media mainstream justru menjadi sasaran jika informasi kontennya tidak benar. Oleh sebab itulah, saat ini media-media tersebut diharapkan harus selalu mengutamakan kebenaran beritanya terlebih dahulu, mengingat posisinya sebagai media pers penting di Indonesia sehingga nila setitik rusak susu sebelanga.

4.  Media Mainstream saat ini sudah bukan Berupa Media Cetak, Radio dan Televisi

Source : pelantar.id
Source : pelantar.id

Melansir dari gatra.com, Ketua Komisi Hubungan Antar-Lembaga dan Internasional Dewan Pers, Agus Sudibyo menyatakan bahwa sebagai media mainstream sudah harus mempertimbangkan digitalisasi. Hal tersebut bisa disimpulkan bahwa media tersebut bukan berupa media cetak, radio dan televisi lagi untuk mengikuti perkembangan teknologi saat ini.

Media mainstream sudah selayaknya berubah menjadi media baru di era digital yang berupa search engine, media sosial dan e-commerce. Namun jika melihat eksistensinya saat ini sepertinya media-media itu belum sepenuhnya bisa berperan aktif dalam pengembangan digitalisai. Terbukti dengan masih adanya kesalahpahaman dalam memberikan berita dari konten medsos.

5. Setiap Media Mainstream Indonesia harus bisa Menghasilkan Good Jounalism

Source : bharian.com.my
Source : bharian.com.my

Semua media bisa menjadi jurnalis tetapi tidak semuanya dapat berperan sebagai good journalism. Dimana mereka bertanggungjawab sepenuhnya dengan semua pemberitaan yang dibawanya, oleh sebab itu biasanya beritanya selalu akurat berdasarkan fakta. Nah generasi-generasi seperti inilah seharusnya dicetak dalam dunia jurnalis Indonesia digital saat ini.

6. Belum Semua Masyarakat Mengetahui Peran Media Mainstream

Source : panjimas.com
Source : panjimas.com

Dengan melalui pembahasan kali inilah, diharapkan bisa lebih memberikan pemahaman pada semua masyarakat tentang media mainstream. Hal tersebut karena memang belum semua dari mereka tahu apa sebenarnya yang disebut sebagai media-media mainstream saat ini sedangn berjuang di tengah gerusan digitalisme.

Kesimpulnya, media mainstream adalah sekumpulan media-media pers yang ada di Indonesia. Saat ini eksistensinya sedang banyak dipertanyakan karena sebagian dari mereka sering terlibat dalam penyebaran berita hoax atau bohong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tidak Kalah Menarik