Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan dan mempersonalisasi pengalaman Anda dan untuk menampilkan iklan (jika ada). Situs web kami mungkin juga menyertakan cookie dari pihak ketiga seperti Google Adsense, Google Analytics, Youtube. Dengan menggunakan situs web, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kami telah memperbarui Kebijakan Privasi kami. Silakan klik tombol untuk memeriksa Kebijakan Privasi kami.

Bersiap “Bencana” Inflasi : Masyarakat Indonesia sedang Mengalami Kenaikan Harga Fantastis

Setelah permasalahan minyak goreng sempat meramaikan media sosial, saat Indonesia masih harus merasakan duka karena guncangan inflasi yang sudah terasa terjadi. Hal ini sempat disampaikan oleh CNBC Indonesia melalui akun media sosialnya di Instagran terkait pemberitaan tersebut. Tanpa melihatnya pun sudah banyak masyarakat mengeluh di medsos terkait naiknya harga-harga barang.

Beberapa Poin Terkait “Bencana” Inflasi yang Mulai Mengguncang Indonesia

Kenaikan harga sembako sudah dirasakan sejak sebelum puasa dan mengalami tarik ulur, dilengkap dengan masalah minyak goreng. Namun ternyata masuk di bulan Juni Indonesia kembali merasakan inflasi yang dirasakan oleh setiap masyarakat di Indonesia. Oleh sebab itulah akhirnya CNBC Indonesia membahasnya dalam akun media sosial Instagramnya dan berikut ringkasan terkait hal tersebut.

1. Bahan-bahan Utama Masakan yang Mengalami Kenaikan Drastis

Source : pikiran-rakyat.com
Source : pikiran-rakyat.com

Bahan-bahan di pasar yang mengalami kenaikan lumayan tinggi adalah sayur-sayuran, cabai, hingga bawang merah. Kenaikannya pun dikonfirmasi lumayan tinggi sehingga membuat masyarakat terutama ibu-ibu kalang kabut, bingung karena memang bahan tersebut masuk ke daftar bahan wajib untuk masakan. Berikut daftar persentase kenaikannya.

  • Cabai Merah 0,24%
  • Cabai Rawit 0,10%
  • Bawang Merah Mencapai 0,08%
  • Telur Ayam 0,04%
  • Tomat 0,03%

Data tersebut dilansir melalui postingan dari CNBC Indonesia di feed Instagram. Kelima bahan tersebut merupakan andalan masyarakat Indonesia dalam membuat masakan, tentunya banyak pihak dirugikan terutama masyarakat menengah ke bawah hingga pedagang makanan. Tidak ada yang bisa dilakukan karena memang salah satu penyebabnya adalah cuaca tak pasti.

2. Cuaca yang Tidak Menentu Menjadi Kemungkinan Penyebab Salah Satunya

Source : republika.co.id
Source : republika.co.id

Melansir dari Instagram CNBC Indonsia, Kepala Badan Statistik (BPS) Margo Yuwono menuturkan bahwa terjadinya hujan deras yang masih sering terjadi di beberapa wilayah menjadi salah satu penyebabnya. Dimana hal tersebut pada akhirnya berdampak besar bagi hasil panen sehingga harga sayur-sayuran dan bumbu-bumbunya naik secara drastis.

Penyebab tersebut bisa diterima karena memang terlihat saat ini masih sering terdengar hujan deras menimpa sebuah wilayah di Indonesia termasuk kawasan dataran tinggi. Padahal penghasil bahan-bahan tersebut kebanyakan berasal dari sana, sehingga intensitas air membuat hasil panen tidak bisa bertahan lama. Mudah membusuk dan merugikan petani jika tidak naik harganya.

3. Kenaikan Inflasi Lebih Tinggi daripada Sebelumnya yang Terjadi di Indonesia

Source : liputan6.com
Source : liputan6.com

Inflasi serupa memang kerap terjadi di Indonesia, tetapi kali ini menurut Badan Pusat Statistik (BPS) dalam 5 tahun terakhir Juni 2022 tercatat tertinggi sejak Juni 2017. Hal tersebut kemungkinan juga dikarenakan kemajuan teknologi semakin mendominasi sehingga harga pun tidak mau kalah maju menaikkan tingkatannya lebih tinggi.

Penyakit inflasi ini memang sudah sering terjadi di Indonesia, bahkan mungkin bisa dibilang tradisi setiap tahun. Oleh sebab itulah disamping menyayangkan, masyarakat merasa tidak heran lagi dengan harga-harga melambung tinggi. Sedangkan kejadian naik turun harga tersebut sudah tercium dan terasa sejak sebelum puasa sehingga mereka merasa terbiasa.

4. Dirasakan Masyrakat di setiap Wilayah Indonesia

Source : jubi.co.id
Source : jubi.co.id 

Kejadian inflasi ini meramaikan jagad dunia maya karena memang dampaknya terjadi di setiap wilayah Indonesia. Oleh sebab itu tidak heran meskipun mereka semua terlihat sudah terbiasa namun tetap saja merasa berat menghadapinya. Hal itu juga dipicu kenaikan harga namun UMR masih tetap, lalu bagaimana membuat negara ini bisa maju? Sedangkan masyarakatnya saja belum diperhatikan.

Pada dasarnya poin itulah yang menjadi pembahasan utama, dimana inflasi selalu terjadi tetapi pemerintah tidak menetapkan kenaikan pada UMR pekerja di Indonesia. Kemajuan teknologi menyumbang sebab kesekian dari naik turunnya harga di fenomena inflasi tersebut juga, dimana penetapan harga merasa masyarakat mampu mempunyai produk elektronik canggih sehingga kenaikan harga dianggap bisa menghadapinya.

5. Belum Bisa Diprediksikan Kapan akan Berakhir

Source : promediateknologi.com
Source : promediateknologi.com

Tentunya melihat permasalahan tersebut masih menjadi pertikaian batin para masyarakat, berakhirnya inflasi belum bisa diprediksikan kapan. Mengingat cuaca juga tidak dapat diprediksikan saat ini, diharapkan lebih bersabar dengan segala doa.

6. Menjadi PR Pemerintah yang Tidak Pernah Terselesaikan

Source : isknews.com
Source : isknews.com

Melihat bagaimana inflasi ini menjadi tradisi setiap tahun, tentunya menjadi PR pemerintahan terkait yang tidak akan pernah terselesaikan. Jika pun masalahnya adalah cuaca seharusnya tetap mempunyai solusi bagaimana menanganinya, mengingat Indonesia sedang berusaha menjadi negara maju di tengah banyaknya masyarkat kesulitan.

Keributan terkait harga-harga yang naik tetapi nilai UMR di Indonesia tidak dinaikkan sudah seperti makanan sehari-hari. Dimana persoalan terus hadir tetapi penyelesaian tak pernah direalisasi secara baik dan benar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Tidak Kalah Menarik